Our Last Meet

~22 Mei 2014, Akhir pertemuan di sekolah.
Teringat kembali sewaktu pertama bertemu di kelas, kamu duduk di bangku belakang deret ke empat dari pintu. Semua masih tergambar jelas ketika aku berjalan menelusuri sudut-sudut kelas. Saat itu adalah saat pertama kali kita berbicara dan kamu akan meminjam laptopku. Tingkahmu waktu itu pun masih kuingat, tampak lucu ketika kamu mencari-cariku untuk pinjaman padahal aku sendiri berada di dekatmu.
Setahun sudah kulewati hari demi hari dan ini adalah hari kenaikan kelas. Baru-baru ini kutersadar sejak awal bertemu ada perasaan lain. Tentang mengapa aku sering melihat ke arahmu, bahagia walau sekedar berpapasan atau berada dekat di sekitarmu dan bahkan ketika kamu mengajakku berbicara.
Di kelas ini kulalui hari demi hari di tahun ajaran keduaku. Saat-saat bahagia yang kurasakan adalah kebahagiaan ketika kamu duduk tepat dibelakangku, dengan humor-humor recehmu dan tingkahmu itu bahkan membuatku nyaman denganmu. Hingga suatu ketika aku melihatmu bersama dengan yang lain... Dengan temanku sendiri, yang rasanya tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sering pandanganku menuju ke arahmu. Pernahkah kamu merasa ada hal lain dari diriku yang kusembunyikan? Tentang perasaan ini. Perasaan sakit yang senantiasa kusembunyikan ketika temanku curhat tentang hubunganmu dengannya ataupun ketika dia terlalu repot untuk membalas dan aku yang harus membalas sms mu, yang selalu kusesalkan adalah kapan aku bisa mengirimkan sms kepadamu atas namaku sendiri dan bukannya orang lain.
Tahun ajaran ketiga, hal yang sungguh tak kusangka dan tidak akan pernah kulupakan adalah duduk sebangku bersamamu selama setengah tahun. Perasaan senang, gugup, malu yang muncul menghampiriku ketika pertama duduk bersamamu. Tertawa bersama, berbicara, sms, bahkan saling terdiam karena rasa canggung yang membuat jarak diantara kita. Aku tahu aku kamu menyukai orang lain, seseorang dengan nama yang sama denganku yang bahkan takkan pernah bisa kubenci. Karena dengan sikapnyalah banyak orang menyukainya, bahkan mungkin dia memang jauh lebih baik dariku. Dan yang bisa kulakukan hanyalah diam, aku hanya akan terus menyembunyikan rasa itu, menunggu hingga pudar dan melupakan.
Tiba saatnya hari akhir sekolah, Ujian Nasional telah terlewati dan semua berlalu sangat cepat. Kutunggu hari-hari selanjutnya usai ujian nasional di sekolah hanya untuk sekedar melihatmu sebelum perpisahan tiba, namun aku tak kunjung bertemu juga.
Kini kurasakan rindu yang mendalam mengingat kenangan-kenangan itu. Rindu saat-saat di sekolah melihatmu tiap hari, bercanda atau bahkan sekedar tersenyum. Kini yang ada tinggalah kenangan-kenangan samar yang berkelebat di pikiranku ketika aku menatap rintik hujan dan langit yang begitu kelabu.
17 Juni 2014, hari perpisahan. Di malam promnight itu, ku rayakan kelulusan bersama mereka, bersama kenangan dan pahit manis tiga tahun di kehidupan peralihan remajaku. 
Teruntuk kamu disana, mungkin aku takkan pernah bisa mengatakan apa yang kurasa, tapi aku sangat bersyukur bisa menjadi teman sebangku seperjuanganmu di saat-saat tersulit tahun ketiga. 
Semoga kamu bisa mencapai impian-impian yang pernah kamu katakan kepadaku dan
terima kasih telah mewarnai hari-hariku. 

Komentar

Postingan Populer